Lulus sekolah
gua memutuskan untuk langsung kuliah. Gua punya temen yang lebih memilih untuk
kerja dulu, kemudian kuliah dengan uang sendiri. Gua juga punya temen yang
maunya kuliah sambil kerja. Kesimpulannya, kuliah atau kerja adalah pilihan
masing-masing orang. Intinya cuma disitu sebenernya, pilihan. Tapi, emang
banyak juga orang yang nyari alasan untuk memperkuat statement dia
mengenai dua opsi ini, yang pada dasarnya itu ada di dalam diri orangnya
sendiri.
Oke,
kalo menurut gua, keputusan untuk mengambil kuliah atau kerja itu bergantung pada prioritas dan kesempatan, meskipun keduanya nggak dateng dalam waktu yang
bersamaan. Let’s say gua pengen bisa S2 diumur gua yang ke 21
tahun. Berarti maksimal gua harus lulus S1 pada saat umur gua 21 tahun. This
on about priority, gua menempatkan itu pada pendidikan. Pada tahun dimana
gua lulus SMA, ternyata gua diberi kesempatan untuk bisa langsung kuliah.
Dengan melihat prioritas yang gua punya, gua bisa langsung
melanjutkan pendidikan gua ke tahap kuliah (nggak lepas dari kehendak Tuhan).
Sekarang kita beralih ke temen gua yang memilih kerja dulu supaya bisa bayar
kuliahnya sendiri. Pada saat itu, dia berpikir bahwa kuliah itu nggak usah
membebani orang tua. Yang dia harus lakukan adalah cari duit dulu untuk bayar
ilmu di bangku perkuliahan. Finally, she chose a work. Lain halnya
dengan temen gua yang memilih kuliah dan kerja dengan alasan ingin langsung
bisa dapet dua pengalaman sekaligus. Ketiganya nggak ada yang salah, itu semua
pilihan. Keknya dari awal tulisan gua selalu bahas pilihan. Ya karena hidup ini
emang gimana manusia memilih.
Choosing is a
freedom. Lo bebas menentukan sikap lo untuk nolong orang, lo bebas mau
ikut kegiatan yang berbau sosial atau diam dirumah untuk meningkatkan kemampuan
yang lo suka, lo bebas mencintai diri lo sendiri atau berbagi sama hewan
peliharaan. It’s your life. And mine, of course. Jawaban yang
sebenernya lo atau gue cari ternyata ada di diri kita sendiri, cuy. Nggak
dipungkiri bahwa gua juga sama. Karena dulu, I don’t know my ambition.
Gua cuma tau gua suka ini dan itu, udah.
Dengan nemuin
celah ini, kita baru bisa lanjut ke tujuan hidup. Beberapa tahun lalu, ketika
gua sedang berbincang dengan salah satu senior gua, doi bilang “Kamu tau nggak,
Vit, guru saya pernah bilang kalo dalam hidup itu kita harus punya yang
namanya Master Plan”. Untuk otak kosong gua yang masih berumur 16
tahun, disitu gua belum menemukan arti dari Master Plan yang
dimaksud.
Kamu mau lulus
SMA kapan, lulus kuliah kapan, nikah kapan, apa yang mau kamu lakuin diumur
sekian, dan seterusnya...
Ah, I
got it! Visi dan misi. Dulu gua ngira kalo visi misi itu cuma dimiliki
sama organisasi, instansi, atau komunitas. Padahal sebenernya, manusia yang
harus punya dua unsur itu. Kalo manusianya aja nggak punya, how could
they run it? Nah. Pernah denger kalimat “Kita takkan bisa mengubah
dunia jika tidak mau memulai dari diri kita sendiri”? Emang bener. Siapa kita
mau mengubah dunia? Mau diubah seperti apa dunianya kalo diri kita aja nggak
punya goal hidup. That’s the point. Lo, gua,
siapapun, harus ada yang namanya tujuan. But what we want doesn’t
always come true. Emang bener. What’s wrong with dreaming? Is it
fault to try to reach our dreams? Nope. Yaaa itu. Ketika kita udah tau
tujuan kita apa, kita tau apa yang harus kita lakuin.
No matter we
wanna go to college first, work first, or combine both. If we know the
priorities that refer to our dreams, and God’s blessing to get that
opportunity, we can reach them. Yuk, mulai tentuin tujuan hidup –di dunia- kita. Akan lebih
bijak kalo kita bisa nuntun tujuan itu dengan usaha dan doa, the
coolest combination. And then? Serahin ke Tuhan aja udah...
Jadi, kuliah
atau kerja, nih?
Makasih udah
baca!
With fried
noodle,
Vita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar