Minggu, 02 September 2018

Kuliah atau Kerja?

Lulus sekolah gua memutuskan untuk langsung kuliah. Gua punya temen yang lebih memilih untuk kerja dulu, kemudian kuliah dengan uang sendiri. Gua juga punya temen yang maunya kuliah sambil kerja. Kesimpulannya, kuliah atau kerja adalah pilihan masing-masing orang. Intinya cuma disitu sebenernya, pilihan. Tapi, emang banyak juga orang yang nyari alasan untuk memperkuat statement dia mengenai dua opsi ini, yang pada dasarnya itu ada di dalam diri orangnya sendiri.

Oke, kalo menurut gua, keputusan untuk mengambil kuliah atau kerja itu bergantung pada prioritas dan kesempatan, meskipun keduanya nggak dateng dalam waktu yang bersamaan. Let’s say gua pengen bisa S2 diumur gua yang ke 21 tahun. Berarti maksimal gua harus lulus S1 pada saat umur gua 21 tahun. This on about priority, gua menempatkan itu pada pendidikan. Pada tahun dimana gua lulus SMA, ternyata gua diberi kesempatan untuk bisa langsung kuliah. Dengan melihat  prioritas yang gua punya, gua bisa langsung melanjutkan pendidikan gua ke tahap kuliah (nggak lepas dari kehendak Tuhan). Sekarang kita beralih ke temen gua yang memilih kerja dulu supaya bisa bayar kuliahnya sendiri. Pada saat itu, dia berpikir bahwa kuliah itu nggak usah membebani orang tua. Yang dia harus lakukan adalah cari duit dulu untuk bayar ilmu di bangku perkuliahan. Finally, she chose a work. Lain halnya dengan temen gua yang memilih kuliah dan kerja dengan alasan ingin langsung bisa dapet dua pengalaman sekaligus. Ketiganya nggak ada yang salah, itu semua pilihan. Keknya dari awal tulisan gua selalu bahas pilihan. Ya karena hidup ini emang gimana manusia memilih.

Choosing is a freedom. Lo bebas menentukan sikap lo untuk nolong orang, lo bebas mau ikut kegiatan yang berbau sosial atau diam dirumah untuk meningkatkan kemampuan yang lo suka, lo bebas mencintai diri lo sendiri atau berbagi sama hewan peliharaan. It’s your life. And mine, of course. Jawaban yang sebenernya lo atau gue cari ternyata ada di diri kita sendiri, cuy. Nggak dipungkiri bahwa gua juga sama. Karena dulu, I don’t know my ambition. Gua cuma tau gua suka ini dan itu, udah.

Dengan nemuin celah ini, kita baru bisa lanjut ke tujuan hidup. Beberapa tahun lalu, ketika gua sedang berbincang dengan salah satu senior gua, doi bilang “Kamu tau nggak, Vit, guru saya pernah bilang kalo dalam hidup itu kita harus punya yang namanya Master Plan”. Untuk otak kosong gua yang masih berumur 16 tahun, disitu gua belum menemukan arti dari Master Plan yang dimaksud.

Kamu mau lulus SMA kapan, lulus kuliah kapan, nikah kapan, apa yang mau kamu lakuin diumur sekian, dan seterusnya...

Ah, I got it! Visi dan misi. Dulu gua ngira kalo visi misi itu cuma dimiliki sama organisasi, instansi, atau komunitas. Padahal sebenernya, manusia yang harus punya dua unsur itu. Kalo manusianya aja nggak punya, how could they run it? Nah. Pernah denger kalimat “Kita takkan bisa mengubah dunia jika tidak mau memulai dari diri kita sendiri”? Emang bener. Siapa kita mau mengubah dunia? Mau diubah seperti apa dunianya kalo diri kita aja nggak punya goal hidup. That’s the point. Lo, gua, siapapun, harus ada yang namanya tujuan. But what we want doesn’t always come true. Emang bener. What’s wrong with dreaming? Is it fault to try to reach our dreams? Nope. Yaaa itu. Ketika kita udah tau tujuan kita apa, kita tau apa yang harus kita lakuin.

No matter we wanna go to college first, work first, or combine both. If we know the priorities that refer to our dreams, and God’s blessing to get that opportunity, we can reach them. Yuk, mulai tentuin tujuan hidup –di dunia- kita. Akan lebih bijak kalo kita bisa nuntun tujuan itu dengan usaha dan doa, the coolest combinationAnd then? Serahin ke Tuhan aja udah...

Jadi, kuliah atau kerja, nih?

Makasih udah baca! 


With fried noodle,



Vita