Siapa yang napasnya sesak karna belum bisa nerima suatu hal yang terjadi di kehidupan? Siapa yang darahnya kayak mendidih ketika ketemu situasi yang dibenci? Siapa yang nggak sudi sebut suatu hal yang menyakitkan? Siapa yang masih suka mengungkit hal lampau yang memalukan, menyedihkan, atau mengecewakan? Siapa yang masih suka menyalahkan diri sendiri atau orang lain atas sebuah kesalahan? Siapa yang merasa frustasi karena semua hal terasa nggak berjalan sesuai dengan keinginan?
Hayo siapa? Nggak usah takut, nggak usah malu. Gua yakin semua orang pernah mengalami hal diatas. Gua juga pernah. Dan menurut gua itu semua adalah pelajaran hidup. Kok pelajaran hidup? Karna gua udah pernah ngalamin hal-hal diatas, gua jadi tau bahwa hal-hal itu nggak berguna, menyusahkan diri sendiri (bisa jadi juga orang lain). Dengan tau hal itu, gua jadi belajar untuk nggak kayak gitu lagi. Mari kita sebut pelajaran ini ikhlas. Hidup nggak sesuai rencana kita itu sepet banget rasanya. Ujungnya kesel, nyalahin orang lain, nyalahin diri sendiri, nyalahin situasi, karena mood nggak bagus kerjaan jadi nggak bener, kemungkinan bisa salah paham sama orang. See? Layaknya menghancurkan masa depan. Yang seharusnya kita bisa menghemat energi supaya bisa maksimal melakukan sesuatu, malah abis karena ngedumel. Nggak, gua bukannya ngejelekin orang-orang yang berlaku seperti diatas, cuma mau nunjukkin sisi lain dari sesuatu. It's ok untuk melampiaskan sesuatu, but don't be over. Yang lalu biarlah berlalu, udah nggak usah disebut-sebut, nggak usah dijadiin alasan kesalahan kita dimasa mendatang.
Contoh, tahun ini gua menduduki posisi penting di sebuah organisasi kampus. Banyak hal yang ingin gua capai di tahun ini dengan menjadikan kesalahan tahun lalu sebagai pelajaran. Mereka nggak boleh terjadi di tahun ini, dan gua bertekad untuk memblok semua hal yang kemungkinan menjadi pemicu kesalahan yang gua tidak inginkan terjadi itu. Nyatanya, emang karna suatu hal, gua nggak bisa menyelesaikan itu dengan baik. Kesel? Banget. Tiap konflik muncul, gua selalu marah-marah sendirian, berharap emosi gua disitu terluapkan sehingga gua bisa berpikir jernih untuk cari cara lain. Karna kalo gua nyalahi orang-orang yang gua anggap nggak sefrekuensi sama gua, atau gua cuma nyalahin diri gua sendiri karna gua yang kurang kompeten, atauuuu gua mau nyalahin COVID-19 yang hadir tepat pada saat gua menjabat, gua akan terima dibilang manusia bodoh. Jadi gua menganggap ini adalah lahan yang tempat untuk gua survive, memahami karakter orang lain, terus beradaptasi dengan kondisi yang ada, mendorong diri untuk upgrade personal skill dan kreatifitas.
Mungkin ini terdengar seperti toxic positivity. Tapi menurut gua nggak, karna gua juga penganut it's okay not to be okay. Semua hal nggak gua selalu tanggapi dengan positif, tapi gua berusaha cari sisi positif dari semua hal yang terjadi. Ketika udah lelah pun, gua bakal istirahat, me time terbaik adalah nonton drakor, karaoke di kamar, ngeluh, ngomong sendiri, streaming youtube, dan tidur. Abis itu lanjut mikir lagi. Jadi, seimbang itu perlu.
Yang terpenting dari pembahasan kali ini adalah, jangan berlarut-larut dalam kesedihan, kemarahan, ataupun kekecewaan terlalu lama. Gua jadi keinget tulisan di sebuah buku yang menyatakan bahwa Rasulullah berkata, "jangan marah". Setelah gua hayati, kalimat itu punya makna yang dalem. Jangan marah karna itu merugikan. Itu menyakiti diri sendiri. Masa lalu nggak bisa diulang, tapi masih ada hal yang bisa kita perbaiki (meskipun belum pasti), yaitu masa depan. Cara untuk mulai memperbaiki dimulai dari memaafkan dan mengikhlaskan apa sudah terjadi. Susah, alhamdulillah. Tapi gua semangat buat belajar ikhlas bareng kalian, saling mengingatkan itu keren.
Makasih udah baca!
With beng-beng,
Vita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar