IP yang
merupakan singkatan dari Indeks Prestasi merupakan hal yang lumrah ditemui
mahasiswa ketika udah selesai menempuh satu semester. Yep, IP bisa disebut
ukuran kemampuan mahasiswa setelah menempuh beberapa SKS dalam satu semester.
Nah, sedangkan yang biasa kita denger IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif adalah
hasil perhitungan jumlah seluruh nilai mata kuliah dari awal hingga akhir
semester. IP maupun IPK ini memiliki nilai bobot 0-4 yang masing-masing punya
nilai huruf dan nilai angka. Di kampus gua sendiri sistemnya gini, kita pake
nilai bobot-nilai huruf-nilai angka. Untuk bobot 0.00 memiliki nilai huruf E
dan nilai angka 01-49, bobot 1.00 memiliki nilai huruf D dan nilai angka 50-59,
bobot 2.00 memiliki nilai huruf C dan nilai angka 60-69, bobot 3.00 memiliki nilai
huruf B dan nilai angka 70-79, bobot 4.00 memiliki nilai huruf A dan nilai
angka 80-100.
Lanjut bahas,
dari mana si IP ini berasal? Ada beberapa komponen yang akan menjadi bahan
evaluasi nilai ini. Bisa dari kehadiran, tes atau kuis, praktikum, laporan, tugas
tambahan, Ujian Tengah Semester (UTS), dan Ujian Akhir Semester (UAS). Yang
biasanya nanti di rangkum menjadi 3, yaitu hanya menjadi Formatif, UTS, dan
UAS. Nah, masing-masing bobotnya itu ditentukan oleh dosen yang bersangkutan.
Untuk perhitungannya sendiri, gua nggak bakal bahas disini, karena yang gua mau
fokuskan adalah ‘apa IP harus tinggi?’
Jawabannya
adalah IYA, kalo IP tinggi itu menjadi jembatan lo untuk meraih sesuatu.
Contohnya ketika lo mau ambil beasiswa, atau mau ambil SKS penuh tiap
semesternya untuk bisa pangkas semester, atau lo mau dapet pekerjaan yang emang
membutuhkan IP yang tinggi. Apa berarti ada jawaban nggak? Jawabannya adalah
ADA. Untuk beberapa hal, IP bisa dikesampingkan dengan skill yang nyata.
Karena nyatanya, ada orang yang memiliki IP rendah, tapi bisa sukses di
kehidupan. Kalo kalian cari di google, ada banyak banget orang-orang yang sukses
meski tanpa IP yang tinggi. Ambil contoh Pak Muhammad Mugni. Merangkum dari
klikmania.net, Pak Mugni ini seorang sarjana pertanian yang punya IP rendah. Karena
turunnya minat perusahaan melirik Pak Mugni dengan melihat IPnya, dia mencoba
untuk bereksperimen agar bisa bekerja sesuai dengan bidangnya. Dan akhirnya dia
sukses meracik salep gatal-gatal dari daun ketepeng. Dari yang hanya memiliki
omset 4,5 juta/bulan, Pak Mugni berhasil capai omset hingga 200 juta/bulan. Ini
cuma satu contoh, gengs!
Tapi hal di atas
jangan sampe buat kita berpikir kalo IP tinggi itu nggak penting. IP tinggi itu
penting. Tapi ya memang harus dibuktikan lewat skill nyata. Kalo kalian
cari juga, banyak lulusan yang punya IPK tinggi, tapi saat di tes, bingung.
Nah, bisa dipertanyakan dong nilainya dari mana?
Jadi, apa IP
harus tinggi? Yuk coba tanya lagi ke diri kita masing-masing. Nggak perlu iri
ngeliat temen yang IPnya selalu tinggi sedangkan kita IPnya biasa aja, jauh
dari rata-rata. Yang perlu di pikirkan adalah, gimana cara kita menutupi IP
yang kurang bagus itu? Jawabannya, cari apa yang kurang dalam proses belajar
kita dan cari passion. Sebagai manusia, kita wajib untuk selalu
mengevaluasi diri kita sendiri. Hal ini bisa jadi dasar untuk kita belajar
lebih baik lagi. Dan passion itu sangat perlu kita tau. Seringkali kita
nggak sadar, kita punya kemampuan diluar dari ‘nilai IP’. IP rendah tapi jago
programming, punya bisnis beromset besar, jago desain, nulis, bahkan fotografi.
Bahkan, dalam kasus nyata yang terjadi di lingkungan gua sendiri, ada yang
punya IP rendah, tapi dia bisa jadi atlet yang dibanggakan orang lain. Bisa
jadi panutan. Kaaan, pasti ada jalan gaes, asal kita mau cari tau.
Jadi, mau IP
tinggi?
Makasih udah
baca!
Being
fasting, so there’s no food L,
Vita