Minggu, 10 Mei 2020

Apa IP Harus Tinggi?



IP yang merupakan singkatan dari Indeks Prestasi merupakan hal yang lumrah ditemui mahasiswa ketika udah selesai menempuh satu semester. Yep, IP bisa disebut ukuran kemampuan mahasiswa setelah menempuh beberapa SKS dalam satu semester. Nah, sedangkan yang biasa kita denger IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif adalah hasil perhitungan jumlah seluruh nilai mata kuliah dari awal hingga akhir semester. IP maupun IPK ini memiliki nilai bobot 0-4 yang masing-masing punya nilai huruf dan nilai angka. Di kampus gua sendiri sistemnya gini, kita pake nilai bobot-nilai huruf-nilai angka. Untuk bobot 0.00 memiliki nilai huruf E dan nilai angka 01-49, bobot 1.00 memiliki nilai huruf D dan nilai angka 50-59, bobot 2.00 memiliki nilai huruf C dan nilai angka 60-69, bobot 3.00 memiliki nilai huruf B dan nilai angka 70-79, bobot 4.00 memiliki nilai huruf A dan nilai angka 80-100.

Lanjut bahas, dari mana si IP ini berasal? Ada beberapa komponen yang akan menjadi bahan evaluasi nilai ini. Bisa dari kehadiran, tes atau kuis, praktikum, laporan, tugas tambahan, Ujian Tengah Semester (UTS), dan Ujian Akhir Semester (UAS). Yang biasanya nanti di rangkum menjadi 3, yaitu hanya menjadi Formatif, UTS, dan UAS. Nah, masing-masing bobotnya itu ditentukan oleh dosen yang bersangkutan. Untuk perhitungannya sendiri, gua nggak bakal bahas disini, karena yang gua mau fokuskan adalah ‘apa IP harus tinggi?’

Jawabannya adalah IYA, kalo IP tinggi itu menjadi jembatan lo untuk meraih sesuatu. Contohnya ketika lo mau ambil beasiswa, atau mau ambil SKS penuh tiap semesternya untuk bisa pangkas semester, atau lo mau dapet pekerjaan yang emang membutuhkan IP yang tinggi. Apa berarti ada jawaban nggak? Jawabannya adalah ADA. Untuk beberapa hal, IP bisa dikesampingkan dengan skill yang nyata. Karena nyatanya, ada orang yang memiliki IP rendah, tapi bisa sukses di kehidupan. Kalo kalian cari di google, ada banyak banget orang-orang yang sukses meski tanpa IP yang tinggi. Ambil contoh Pak Muhammad Mugni. Merangkum dari klikmania.net, Pak Mugni ini seorang sarjana pertanian yang punya IP rendah. Karena turunnya minat perusahaan melirik Pak Mugni dengan melihat IPnya, dia mencoba untuk bereksperimen agar bisa bekerja sesuai dengan bidangnya. Dan akhirnya dia sukses meracik salep gatal-gatal dari daun ketepeng. Dari yang hanya memiliki omset 4,5 juta/bulan, Pak Mugni berhasil capai omset hingga 200 juta/bulan. Ini cuma satu contoh, gengs!

Tapi hal di atas jangan sampe buat kita berpikir kalo IP tinggi itu nggak penting. IP tinggi itu penting. Tapi ya memang harus dibuktikan lewat skill nyata. Kalo kalian cari juga, banyak lulusan yang punya IPK tinggi, tapi saat di tes, bingung. Nah, bisa dipertanyakan dong nilainya dari mana?

Jadi, apa IP harus tinggi? Yuk coba tanya lagi ke diri kita masing-masing. Nggak perlu iri ngeliat temen yang IPnya selalu tinggi sedangkan kita IPnya biasa aja, jauh dari rata-rata. Yang perlu di pikirkan adalah, gimana cara kita menutupi IP yang kurang bagus itu? Jawabannya, cari apa yang kurang dalam proses belajar kita dan cari passion. Sebagai manusia, kita wajib untuk selalu mengevaluasi diri kita sendiri. Hal ini bisa jadi dasar untuk kita belajar lebih baik lagi. Dan passion itu sangat perlu kita tau. Seringkali kita nggak sadar, kita punya kemampuan diluar dari ‘nilai IP’. IP rendah tapi jago programming, punya bisnis beromset besar, jago desain, nulis, bahkan fotografi. Bahkan, dalam kasus nyata yang terjadi di lingkungan gua sendiri, ada yang punya IP rendah, tapi dia bisa jadi atlet yang dibanggakan orang lain. Bisa jadi panutan. Kaaan, pasti ada jalan gaes, asal kita mau cari tau.

Jadi, mau IP tinggi?

Makasih udah baca!



Being fasting, so there’s no food L,



Vita