Kamis, 31 Desember 2020

Belajar Ikhlas Itu Susah


Siapa yang napasnya sesak karna belum bisa nerima suatu hal yang terjadi di kehidupan? Siapa yang darahnya kayak mendidih ketika ketemu situasi yang dibenci? Siapa yang nggak sudi sebut suatu hal yang menyakitkan? Siapa yang masih suka mengungkit hal lampau yang memalukan, menyedihkan, atau mengecewakan? Siapa yang masih suka menyalahkan diri sendiri atau orang lain atas sebuah kesalahan? Siapa yang merasa frustasi karena semua hal terasa nggak berjalan sesuai dengan keinginan?


Hayo siapa? Nggak usah takut, nggak usah malu. Gua yakin semua orang pernah mengalami hal diatas. Gua juga pernah. Dan menurut gua itu semua adalah pelajaran hidup. Kok pelajaran hidup? Karna gua udah pernah ngalamin hal-hal diatas, gua jadi tau bahwa hal-hal itu nggak berguna, menyusahkan diri sendiri (bisa jadi juga orang lain). Dengan tau hal itu, gua jadi belajar untuk nggak kayak gitu lagi. Mari kita sebut pelajaran ini ikhlas. Hidup nggak sesuai rencana kita itu sepet banget rasanya. Ujungnya kesel, nyalahin orang lain, nyalahin diri sendiri, nyalahin situasi, karena mood nggak bagus kerjaan jadi nggak bener, kemungkinan bisa salah paham sama orang. See? Layaknya menghancurkan masa depan. Yang seharusnya kita bisa menghemat energi supaya bisa maksimal melakukan sesuatu, malah abis karena ngedumel. Nggak, gua bukannya ngejelekin orang-orang yang berlaku seperti diatas, cuma mau nunjukkin sisi lain dari sesuatu. It's ok untuk melampiaskan sesuatu, but don't be over. Yang lalu biarlah berlalu, udah nggak usah disebut-sebut, nggak usah dijadiin alasan kesalahan kita dimasa mendatang.


Contoh, tahun ini gua menduduki posisi penting di sebuah organisasi kampus. Banyak hal yang ingin gua capai di tahun ini dengan menjadikan kesalahan tahun lalu sebagai pelajaran. Mereka nggak boleh terjadi di tahun ini, dan gua bertekad untuk memblok semua hal yang kemungkinan menjadi pemicu kesalahan yang gua tidak inginkan terjadi itu. Nyatanya, emang karna suatu hal, gua nggak bisa menyelesaikan itu dengan baik. Kesel? Banget. Tiap konflik muncul, gua selalu marah-marah sendirian, berharap emosi gua disitu terluapkan sehingga gua bisa berpikir jernih untuk cari cara lain. Karna kalo gua nyalahi orang-orang yang gua anggap nggak sefrekuensi sama gua, atau gua cuma nyalahin diri gua sendiri karna gua yang kurang kompeten, atauuuu gua mau nyalahin COVID-19 yang hadir tepat pada saat gua menjabat, gua akan terima dibilang manusia bodoh. Jadi gua menganggap ini adalah lahan yang tempat untuk gua survive, memahami karakter orang lain, terus beradaptasi dengan kondisi yang ada, mendorong diri untuk upgrade personal skill dan kreatifitas. 


Mungkin ini terdengar seperti toxic positivity. Tapi menurut gua nggak, karna gua juga penganut it's okay not to be okay. Semua hal nggak gua selalu tanggapi dengan positif, tapi gua berusaha cari sisi positif dari semua hal yang terjadi. Ketika udah lelah pun, gua bakal istirahat, me time terbaik adalah nonton drakor, karaoke di kamar, ngeluh, ngomong sendiri, streaming youtube, dan tidur. Abis itu lanjut mikir lagi. Jadi, seimbang itu perlu.


Yang terpenting dari pembahasan kali ini adalah, jangan berlarut-larut dalam kesedihan, kemarahan, ataupun kekecewaan terlalu lama. Gua jadi keinget tulisan di sebuah buku yang menyatakan bahwa Rasulullah berkata, "jangan marah". Setelah gua hayati, kalimat itu punya makna yang dalem. Jangan marah karna itu merugikan. Itu menyakiti diri sendiri. Masa lalu nggak bisa diulang, tapi masih ada hal yang bisa kita perbaiki (meskipun belum pasti), yaitu masa depan. Cara untuk mulai memperbaiki dimulai dari memaafkan dan mengikhlaskan apa sudah terjadi. Susah, alhamdulillah. Tapi gua semangat buat belajar ikhlas bareng kalian, saling mengingatkan itu keren.


Makasih udah baca!


With beng-beng,




Vita

Minggu, 10 Mei 2020

Apa IP Harus Tinggi?



IP yang merupakan singkatan dari Indeks Prestasi merupakan hal yang lumrah ditemui mahasiswa ketika udah selesai menempuh satu semester. Yep, IP bisa disebut ukuran kemampuan mahasiswa setelah menempuh beberapa SKS dalam satu semester. Nah, sedangkan yang biasa kita denger IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif adalah hasil perhitungan jumlah seluruh nilai mata kuliah dari awal hingga akhir semester. IP maupun IPK ini memiliki nilai bobot 0-4 yang masing-masing punya nilai huruf dan nilai angka. Di kampus gua sendiri sistemnya gini, kita pake nilai bobot-nilai huruf-nilai angka. Untuk bobot 0.00 memiliki nilai huruf E dan nilai angka 01-49, bobot 1.00 memiliki nilai huruf D dan nilai angka 50-59, bobot 2.00 memiliki nilai huruf C dan nilai angka 60-69, bobot 3.00 memiliki nilai huruf B dan nilai angka 70-79, bobot 4.00 memiliki nilai huruf A dan nilai angka 80-100.

Lanjut bahas, dari mana si IP ini berasal? Ada beberapa komponen yang akan menjadi bahan evaluasi nilai ini. Bisa dari kehadiran, tes atau kuis, praktikum, laporan, tugas tambahan, Ujian Tengah Semester (UTS), dan Ujian Akhir Semester (UAS). Yang biasanya nanti di rangkum menjadi 3, yaitu hanya menjadi Formatif, UTS, dan UAS. Nah, masing-masing bobotnya itu ditentukan oleh dosen yang bersangkutan. Untuk perhitungannya sendiri, gua nggak bakal bahas disini, karena yang gua mau fokuskan adalah ‘apa IP harus tinggi?’

Jawabannya adalah IYA, kalo IP tinggi itu menjadi jembatan lo untuk meraih sesuatu. Contohnya ketika lo mau ambil beasiswa, atau mau ambil SKS penuh tiap semesternya untuk bisa pangkas semester, atau lo mau dapet pekerjaan yang emang membutuhkan IP yang tinggi. Apa berarti ada jawaban nggak? Jawabannya adalah ADA. Untuk beberapa hal, IP bisa dikesampingkan dengan skill yang nyata. Karena nyatanya, ada orang yang memiliki IP rendah, tapi bisa sukses di kehidupan. Kalo kalian cari di google, ada banyak banget orang-orang yang sukses meski tanpa IP yang tinggi. Ambil contoh Pak Muhammad Mugni. Merangkum dari klikmania.net, Pak Mugni ini seorang sarjana pertanian yang punya IP rendah. Karena turunnya minat perusahaan melirik Pak Mugni dengan melihat IPnya, dia mencoba untuk bereksperimen agar bisa bekerja sesuai dengan bidangnya. Dan akhirnya dia sukses meracik salep gatal-gatal dari daun ketepeng. Dari yang hanya memiliki omset 4,5 juta/bulan, Pak Mugni berhasil capai omset hingga 200 juta/bulan. Ini cuma satu contoh, gengs!

Tapi hal di atas jangan sampe buat kita berpikir kalo IP tinggi itu nggak penting. IP tinggi itu penting. Tapi ya memang harus dibuktikan lewat skill nyata. Kalo kalian cari juga, banyak lulusan yang punya IPK tinggi, tapi saat di tes, bingung. Nah, bisa dipertanyakan dong nilainya dari mana?

Jadi, apa IP harus tinggi? Yuk coba tanya lagi ke diri kita masing-masing. Nggak perlu iri ngeliat temen yang IPnya selalu tinggi sedangkan kita IPnya biasa aja, jauh dari rata-rata. Yang perlu di pikirkan adalah, gimana cara kita menutupi IP yang kurang bagus itu? Jawabannya, cari apa yang kurang dalam proses belajar kita dan cari passion. Sebagai manusia, kita wajib untuk selalu mengevaluasi diri kita sendiri. Hal ini bisa jadi dasar untuk kita belajar lebih baik lagi. Dan passion itu sangat perlu kita tau. Seringkali kita nggak sadar, kita punya kemampuan diluar dari ‘nilai IP’. IP rendah tapi jago programming, punya bisnis beromset besar, jago desain, nulis, bahkan fotografi. Bahkan, dalam kasus nyata yang terjadi di lingkungan gua sendiri, ada yang punya IP rendah, tapi dia bisa jadi atlet yang dibanggakan orang lain. Bisa jadi panutan. Kaaan, pasti ada jalan gaes, asal kita mau cari tau.

Jadi, mau IP tinggi?

Makasih udah baca!



Being fasting, so there’s no food L,



Vita

Sabtu, 18 April 2020

Organisasi atau Non Organisasi?



Berorganisasi, yang diambil dari kata organisasi, ditujukan pada orang yang menjalankan sebuah organisasi. Mungkin kata ini udah sangat lumrah didengar sejak kita menginjak sekolah menengah pertama. Yep, dari SMP kita udah kenalan dengan yang namanya Organisasi Siswa Intra Sekolah atau yang biasa disebut OSIS. Padahal organisasi itu luas banget pemahamannya. Organisasi itu ada untuk kerapihan. Misal, dalam organ tubuh manusia seperti jantung, ginjal, lambung, usus, mereka bekerja sesuai fungsinya. Untuk apa? Supaya manusia bisa menjalankan hidup dengan semestinya. Sistem kerjanya juga beda satu sama lain. Disini kita temuin yang namanya saling mengisi.

Keluarga, itu juga bisa disebut organisasi. Kenapa? Karena tiap anggota keluarga menjalankan tugasnya masing-masing. Ayah yang mencari nafkah, Ibu yang mengurus urusan rumah tangga, anak yang belajar. It’s all about regularity.

Gimana sama organisasi di perkuliahan? Sama aja. Bedanya adalah tujuan. Apa tujuan kita sebelum memutuskan untuk ikut sebuah organisasi? Itu adalah pertanyaan mendasar sebelum kita memutuskan untuk bergabung dalam sebuah organisasi. Misalnya gua punya ketertarikan tentang bahasa, gua ingin memperdalam keterampilan gua dalam berbahasa. Jadi, gua memutuskan untuk bergabung bersama organisasi tentang bahasa. Atau, gua punya hobi main musik, gua menjadkan musik sebagai penghilang penat dari rumitnya kehidupan. Kemudian gua gabung organisasi musik. Apa yang gua suka, apa yang gua jalanin. Sesimpel itu, emang.

Tapiii perlu diketahui bahwa nggak semua miat itu bisa dipaduin sama organisasi, terutama yang formal. Oke, gua suka musik. Tapi bukan berarti gua harus to’ ikut organisasi berbasis musik. Gua bisa aja main musik sendiri dirumah, aransemen lagu sendiri, ngikutin konser segala macem. Itu balik lagi ke cara pandang masing-masing. Seseorang yang masuk organisasi itu pasti punya tujuan, dan gasemua tujuan itu mengarah ke organisasi. Oke, mungkin sama. Tapi pasti ada tujuan dari diri sendiri. Entah ingin menambah wawasan, untuk mendapat pengakuan lah, untuk kepuasan sendiri lah, apapun itu, pasti ada. Keinginan kita untuk masuk di organisasi itu nggak pernah lepas dari tujuan pribadi kita.

Terus yang kontroversialnya adalah, kadang ada orang yang menganggap bahwa orang yang nggak ikut organisasi adalah orang yang nggak sukses. Ini menurut gua adalah asumsi yang keliru. Kesuksesan nggak bisa diukur dari hal seremeh itu. Ikut organisasi maupun nggak punya kelebihan dan kelemahan tersendiri. Menurut gua pribadi, itu tergantung sama pribadi masing-masing. Ketika lo nggak ikut organisasi, lo bisa menikmati waktu belajar secara pribadi, lo lebih bebas mengatur jadwal lo sendiri, dan pastinya nggak perlu mikirin tanggungan lain selain tentang diri lo. Ketika lo ikut organisasi, lo mengatur jadwal dengan menyesuaikan jadwal di organisasi. Organisasi itu mengikat, karna organisasi bergerak dengan orang yang memanajemen di dalamnya. Tapi, organisasi bisa bikin lo kenal sama orang lebih banyak, lo bisa ningkatin passion yang memang udah lu punya, dan kemampuan sosialisasi lo insya Allah makin oke. Pada intinya, organisasi itu hanya wadah, gimana cara kita mengupgrade diri kita ya lagi-lagi kembali ke diri kita sendiri.

Di lingkungan gua pun, gua menemukan bahwa orang-orang yang nggak ikut organisasi bisa sukses dengan caranya. Buka bisnis online, menciptakan sebuah inovasi baru, buat konten tulisan atau Youtube, dan masih banyak lagi. Ketiga hal diatas emang mungkin juga dilakukan buat yang ikut organisasi, tapi itu nggak jadi batasan karena yang nggak ikut pun masih bisa ngelakuin. Komitmen, adalah kunci utama untuk keduanya. So, jangan pernah takut untuk memilih ikut organisasi atau nggak. Makasih udah baca!



With fried chicken,



Vita

Rabu, 20 November 2019

Si Belum Baik III


#SiBelumBaik merupakan sebuah tema yang membahas tentang kehidupan sehari-hari dengan bahasan yang ringan dan dibuat singkat. Semuanya murni berdasarkan opini. Let's discuss!

Omongan orang itu penyakit.

Pernah dengar kalimat, “Kita tidak bisa menjaga lisan orang lain, yang bisa kita jaga adalah sikap kita”? Itu kalimat yang dalam satu minggu gua temukan berulang-ulang di Jelajah-nya Instagram. Awalnya gua merasa seakan-akan manusia itu harus selalu intropeksi diri terus menerus. Kenapa nggak mencoba untuk mengintropeksi orang lain? Toh, nggak ada salahnya juga. Mengintropeksi orang lain bukan berarti menjatuhkan, tapi mengevaluasi sikap mana yang seharusnya ia kurangi. Tapi kan, sebagian orang pasti jawabnya, “Ya gua emang kayak gini orangnya”. Terus, apa masih lisan kita -yang mengungkapkan itu- yang harus disalahkan karna mengungkapkan evaluasi itu? Ya gua emang kayak gini juga orangnya, ngungkapin apa yang pengen gua ungkapin. Baik diambil, salah jangan dengarkan. Sesimpel itu.

Tapi, satu hal yang orang lupakan dalam tindakan mengevaluasi diri orang lain adalah lupa berpikir, “Apa gua udah bisa menerapkan ini dalam diri gua sendiri?”. Semua orang tau baiknya seperti apa, yang tidak semua orang tau adalah kondisinya. Kadang, desakkan untuk melakukan sesuatu yang orang lain tidak tau kondisinya membuat kita tertekan. Dan ketika kita berusaha mengikuti, kesulitan akan kondisi yang berasal dari diri sendiri maupun luar akan datang bertubi-tubi.

Gua, Si Belum Baik. Yang masih belajar caranya memahami masalah sendiri. Yang berusaha untuk menjalankan cara terbaik versi gua dalam menghadapi masalah, berusaha menjadikan omongan orang sebagai bentuk kasih sayang sesama manusia, dan berusaha untuk nggak menyakiti hati orang yang udah ‘sayang’ sama gua. Yang masih belajar untuk selalu terbuka jika ada masalah sama orang, belajar untuk saling mengintropeksi diri sendiri sebelum megintropeksi orang lain, dan belajar untuk memahami perasaan yang belum pernah dirasain. Semua masih belajar, alhamdulillah.

Senin, 18 November 2019

Si Belum Baik II


#SiBelumBaik merupakan sebuah tema yang membahas tentang kehidupan sehari-hari dengan bahasan yang ringan dan dibuat singkat. Semuanya murni berdasarkan opini. Let's discuss!

Berkata baik atau diam.

Kita nggak pernah tau apa yang lagi seseorang rasain. Nggak perlu dijelasin kalo setiap orang punya masalahnya masing-masing. Nggak perlu adu siapa yang punya masalah paling besar. Ingat teori Si Buta dan Gajah? Masing-masing orang buta punya perspektif masing-masing tentang gajah diliat dari cara dia menyentuh bagian gajah. Berpendapat boleh, kolot jangan.
Apa susahnya berpikir dulu sebelum berucap? Nyakitin nggak, ya kalo ngomong kayak gini? Ada manfaatnya nggak, ya ngomong kayak gini? Penting nggak, ya ngomong kayak gini? Bakal menimbulkan mudharat nggak, ya apa yang gua ucapin? Berbobot ga si? Udah bener belom, ya informasi yang mau gua sampein? Jatohnya fitnah bukan, ya? Pantes nggak, ya gua omongin? Dan pikiran-pikiran lainnya yang mungkin masih bisa kita pikirin.

Gua, Si Belum Baik. Yang masih nyoba caranya bertutur baik, yang masih nyoba untuk tidak dibodohi hoax, yang masih mengontrol ucapan, yang masih bodoh, yang masih belum bisa beragumen dengan baik karena otak kopongnya, omongannya pun masih banyak yang belum berbobot. Iya, masih belajar. Apa yang kita ucapin itu bisa melambangkan isi diri kita sendiri. Itu intinya. Alhamdulillah.

Rabu, 13 November 2019

Si Belum Baik I


#SiBelumBaik merupakan sebuah tema yang membahas tentang kehidupan sehari-hari dengan bahasan yang ringan dan dibuat singkat. Semuanya murni berdasarkan opini. Let's discuss!


Jangan nilai dari luarnya aja.

Semua orang pasti tau kalimat itu. Kalimat itu benar. Sangat bijak. Nggak sepatutnya sebagai manusia berakal, kita cuma nilai dari penampilan. Lagian, nggak ada ruginya nilai dari berbagai sisi, pasti dapet istimewanya. Penampilan urakan, tatapan nyeleneh, aktivitas monoton, boleh jadi dia seorang pengamat yang oke. Atau pakaian rapih, tatapan tajam, terorganisir, malah yang disebut tong kosong.

Percaya deh, mau sebagus apapun orang lain mandang kita, sesegan apapun orang sama kita, sebanyak apapun pujian yang kita dapet, kalo diiringi penyakit -yang berasal dari segumpal daging, yang apabila ia sakit maka semua anggota tubuh ikut sakit-, semua nggak ada artinya.

Gua, Si Belum Baik. Masih suka nunda yang namanya sholat. Masih suka ngomong buruk ke diri sendiri bahkan ke orang lain. Masih suka males-malesan. Masih angot-angotan ibadah sunnah. Masih mengabaikan larangan Allah. Masih kurang menghargai hidup. Dan masih banyak masih masih yang kurang. Emang bener, berubah itu nggak susah. Ketika lo mau berubah, yaudah jalanin. Selesai. Yang berat adalah istiqomah. Gimana lo konsisten sama perubahan yang lo lakuin. Gimana lo harus memperjuangkan nilai-nilai yang lo anut. Alhamdulillah, susah.







Minggu, 02 September 2018

Kuliah atau Kerja?

Lulus sekolah gua memutuskan untuk langsung kuliah. Gua punya temen yang lebih memilih untuk kerja dulu, kemudian kuliah dengan uang sendiri. Gua juga punya temen yang maunya kuliah sambil kerja. Kesimpulannya, kuliah atau kerja adalah pilihan masing-masing orang. Intinya cuma disitu sebenernya, pilihan. Tapi, emang banyak juga orang yang nyari alasan untuk memperkuat statement dia mengenai dua opsi ini, yang pada dasarnya itu ada di dalam diri orangnya sendiri.

Oke, kalo menurut gua, keputusan untuk mengambil kuliah atau kerja itu bergantung pada prioritas dan kesempatan, meskipun keduanya nggak dateng dalam waktu yang bersamaan. Let’s say gua pengen bisa S2 diumur gua yang ke 21 tahun. Berarti maksimal gua harus lulus S1 pada saat umur gua 21 tahun. This on about priority, gua menempatkan itu pada pendidikan. Pada tahun dimana gua lulus SMA, ternyata gua diberi kesempatan untuk bisa langsung kuliah. Dengan melihat  prioritas yang gua punya, gua bisa langsung melanjutkan pendidikan gua ke tahap kuliah (nggak lepas dari kehendak Tuhan). Sekarang kita beralih ke temen gua yang memilih kerja dulu supaya bisa bayar kuliahnya sendiri. Pada saat itu, dia berpikir bahwa kuliah itu nggak usah membebani orang tua. Yang dia harus lakukan adalah cari duit dulu untuk bayar ilmu di bangku perkuliahan. Finally, she chose a work. Lain halnya dengan temen gua yang memilih kuliah dan kerja dengan alasan ingin langsung bisa dapet dua pengalaman sekaligus. Ketiganya nggak ada yang salah, itu semua pilihan. Keknya dari awal tulisan gua selalu bahas pilihan. Ya karena hidup ini emang gimana manusia memilih.

Choosing is a freedom. Lo bebas menentukan sikap lo untuk nolong orang, lo bebas mau ikut kegiatan yang berbau sosial atau diam dirumah untuk meningkatkan kemampuan yang lo suka, lo bebas mencintai diri lo sendiri atau berbagi sama hewan peliharaan. It’s your life. And mine, of course. Jawaban yang sebenernya lo atau gue cari ternyata ada di diri kita sendiri, cuy. Nggak dipungkiri bahwa gua juga sama. Karena dulu, I don’t know my ambition. Gua cuma tau gua suka ini dan itu, udah.

Dengan nemuin celah ini, kita baru bisa lanjut ke tujuan hidup. Beberapa tahun lalu, ketika gua sedang berbincang dengan salah satu senior gua, doi bilang “Kamu tau nggak, Vit, guru saya pernah bilang kalo dalam hidup itu kita harus punya yang namanya Master Plan”. Untuk otak kosong gua yang masih berumur 16 tahun, disitu gua belum menemukan arti dari Master Plan yang dimaksud.

Kamu mau lulus SMA kapan, lulus kuliah kapan, nikah kapan, apa yang mau kamu lakuin diumur sekian, dan seterusnya...

Ah, I got it! Visi dan misi. Dulu gua ngira kalo visi misi itu cuma dimiliki sama organisasi, instansi, atau komunitas. Padahal sebenernya, manusia yang harus punya dua unsur itu. Kalo manusianya aja nggak punya, how could they run it? Nah. Pernah denger kalimat “Kita takkan bisa mengubah dunia jika tidak mau memulai dari diri kita sendiri”? Emang bener. Siapa kita mau mengubah dunia? Mau diubah seperti apa dunianya kalo diri kita aja nggak punya goal hidup. That’s the point. Lo, gua, siapapun, harus ada yang namanya tujuan. But what we want doesn’t always come true. Emang bener. What’s wrong with dreaming? Is it fault to try to reach our dreams? Nope. Yaaa itu. Ketika kita udah tau tujuan kita apa, kita tau apa yang harus kita lakuin.

No matter we wanna go to college first, work first, or combine both. If we know the priorities that refer to our dreams, and God’s blessing to get that opportunity, we can reach them. Yuk, mulai tentuin tujuan hidup –di dunia- kita. Akan lebih bijak kalo kita bisa nuntun tujuan itu dengan usaha dan doa, the coolest combinationAnd then? Serahin ke Tuhan aja udah...

Jadi, kuliah atau kerja, nih?

Makasih udah baca! 


With fried noodle,



Vita

Rabu, 08 Agustus 2018

Karakter Baru di Perkuliahan

Tuhan itu menciptakan manusia dengan berbagai macam wajah, warna, sifat, suara, dan karakteristik yang berbeda. Perbedaan itu bukan dijadikan alasan untuk kita bersifat rasis, karena perbedaan yang membuat dunia ini, bumi ini, lebih berwarna. Alasan lain yang mendukung adanya tindakan ‘No rasis rasis club’ adalah because we are social beings. Segede apapun tingkatan kita, sepinter apapun, secantik/seganteng apapun, kita cuma manusia yang nggak lepas dari bantuan orang lain. That’s why gua gedek sama orang sombong. H~

Sebenernya mau di lingkungan manapun lo pasti bisa ketemu sama orang dengan berbagai macam karakter, sih. Entah rumah baru –yang pindahan-, tempat kerja, sekolah, bahkan tempat umum, lo pasti bisa ketemu dengan karakter baru itu. Tapi yang gua jabarin disini lebih ke lingkup perkuliahan and it’s my real experience. Nggak asing lagi kalo ketika di perkuliahan itu lo bakal nemuin ‘kubu-kubu’ dan bisa jadi lo berada di dalamnya. Itu meyangkut kenyamanan, gengs. Ketika lo nyambung sama dia, lo bakal sama dia terus. Dan standar nyaman orang kan beda-beda. Tapi, itu nggak bisa dijadiin alasan untuk ansos sama yang lain. Lo boleh sama kubu lo tanpa menyombongkan diri lo ke kubu lainnya. Ya kek layaknya lo sama temen deket ke temen biasa. That’s it.

Kita nggak bisa menilai orang hanya dengan pandangan pertama. Oke, mungkin itu emang bisa mewakilkan, tapi nggak semuanya. Jadi, ketika lo mau menilai orang, sangatlah penting untuk mencari tau seluk beluknya. Kita nggak bisa nge-judge orang hanya dengan satu tindakan yang dia lakuin. We don’t know why she/he did that. Jadi penilaian karakter yang gua lakuin ini setelah beberapa semester kuliah gua lewatin, ya.

Gua punya temen yang punya hobi sama, which is makan. Gua amazed banget sih pas tau ini. Makan coy, makan, cewek lagi. Sebelumnya gua nggak ada yang nemu kayak gini. Kalo yang kayak gini nih, diem dikit tu nggak bisa. Kek bawaannya mulut iseng mulu gitu. Jadi harus stok cemilan di tas. Apalagi kalo dosennya emang enak dan nggak ngelarang mahasiswanya makan dikelas. Udah itu, merdeka banget kita, udah siap perang dari keroncongnya perut. Dan yang lebih seneng adalah ketika ada temen lo yang mendukung dan sangat mengerti hobi lo. Cerita sedikit bahwa gua orang yang cukup ekspresif. Ketika gua seneng, kesel, gua mengekspresikan diri gua. Dan hal yang baru gua tau ketika gua masuk kuliah adalah ternyata kalo gua laper, ekspresi gua nggak enak diliat. Kek diem, lebih sensitif, dan itu gua baru tau dari temen gua. Jujur aja gua suka nggak sadar dengan ekspresi yang gua keluarin. Ketika ekspresi temen gua udah ‘gitu’ dan kata ‘tuh kan, laper nih pasti’ keluar, gua baru nyadar kalo ada yang salah dengan ekspresi gua. Nggak selalu ngucap kata, kadang mereka langsung ngasih sesuatu gitu yang nggak bisa gua tolak. Udah, ‘murah’ aja gua kalo di depan makanan. Dari sini nih gua banyak banget denger orang yang mengatakan gua cacingan. Tbh, I don’t care, really:p walopun nih, ya, kadang gua jadi mikirin juga, but i still eat whatever I want. Emang agak gimana gitu si, cuma..rada susah sih buat yang satu ini. HAHAHA.

Masih seputar kesukaan, ya, gua juga dapet temen yang suka sama Kpop. Tingkat kesukaannya mereka itu lebih dibanding gua. Mereka lebih update tentang Kpop, dari mulai lagunya, dramanya, aktris dan aktornya, pokoknya yang lagi hype pasti mereka udah tau duluan. Gua jadi mikir ‘oh, gitu, ya”. Kenapa? Karena dulu biasanya adalah gua yang cerita –meskipun nggak sering- tentang itu. Tapi sekarang malah gua yang diceritain. Ekspresi orang ketika cerita kan beda, ya. Gua jadi mikir ‘dulu gua ketika cerita kek gini nggak, ya?’, atau ‘dulu gua sebegini banget nggak, sih?’. Karena setelah gua telaah, ternyata awkward banget. Kesukaan absolutely setiap orang beda-beda. Ini udah mutlak. We can’t chance it and never try it. Tapi ketika kita obrolin apa yang kita suka ke mereka yang nggak suka atau kurang suka itu yang jadi masalah. When I telling you about something, you won’t always be interested. Our mind would be different. Gitu. Dan dalam percakapan itu gua ngerasa nggak nyambung. Apa lawan bicara gua dulu secanggung itu? I dunno.

Evidently, konflik antar temen sekelas itu masih ada cuy di perkuliahan. Gua ngerti sih terjadinya ini adalah karena kurangnya komunikasi antar orang-orang ini. Lo cuma tegur sapa ketika ada perlu, misalnya tugas kelompok atau sesuatu yang mengharuskan lo untuk ngobrol sama dia. Ketika ngobrol aja nggak pernah atau jarang terus tiba-tiba ada masalah sepele, yaudah, yang ada malah adu mulut. Sekalinya ngomong, ya bahas masalah aja. Makanya gua ngerasa emang komunikasi itu penting banget, sih. Coba lo bedain sama temen yang udah deket banget sama lo. Ketika lo buat salah, she/he blamed you, after that, that’s over. The condition will be as before. Akan beda ceritanya ketika itu hanya sebatas temen, bahkan kurang. Udah cek-cok terus-terusan, abis itu diem-dieman deh. Nggak semuanya begitu, ya, lagi-lagi masalah pengalaman.

Hal yang sangat wajib dimiliki oleh sebuah kelas adalah grup. WhatsApp, Line, harus banget punya pokoknya. Demi kemaslahatan sebuah kelas, terutama buat nginfo tentang tugas dan dosen. Gua nemuin karakter baru melalui media ini. Mereka adalah orang yang sering ngirim foto atau video nggak jelas di grup. I know, they just lighten the mood in quiet or noisy group. Bukannya apa, ya, tapi buat gua itu sangat ganggu. Satu, kalo gua lupa matiin mode auto download, itu gambar ke-download semua. Dan lo tau banget pasti, kuota bagi mahasiswa tu berharga. Like a diamond, cuy. Terus nih ya, buat gua pengguna hengpong jadul, itu RAM udah kagak muat banyak aplikasi. Gua udah irit-iritin, kalo ke-download ya udah, galeri gua nggak bisa kebuka. Yang paling penting adalah isinya. Mereka ngirim gambar meme gitu. I mean, kek, penting kaga seh?? Tapi emang kalo mood gua lagi jelek gua ketawa sih, gua nggak memungkiri itu. Oh dan alasan lainnya adalah, mereka nggak cuma sekali atau dua kali ngirim. Mereka kek lagi ngobrol, cuma pake gambar. Itu gua kalo sekali nge-scroll nih, gambar semua isinya. Nah, kan.

Menurut gua ini yang membuat gua paling semangat untuk ngetik. When you have a friend that’s a lot of laughs and grins. Tiap ketemu, ketawa. Ngobrol, banyakan ketawannya daripada ngomong. Presentasi, ketawa. Hadep-hadepan nggak ngomong aja nih, ketawa. Kek hidup itu sesuatu yang mudah ditertawakan untuk doi. Pernah nih gua tanya sekali, ‘gimana si tips biar hidup happy terus?’, she laughed and said, “pikirin yang ringan-ringan aja, Vit”. Oke, gua disuruh mikirin kapas. Balik lagi ke pembahasan awal, ya. Kita nggak pernah tau apa yang orang sedang rasain. Don’t judge them. Menurut gua selama apa yang doi lakuin itu bermanfaat –buat orang juga seneng-, dia berhak mendapatkan apresiasi.

For this one, ini emang kayaknya udah ada dari jamannya sekolah. Tapi karena dulu gua kurang ngelekat dengan media sosial, jadi gua baru bisa nganalisis. Banyak banget orang yang pendiem di dunia nyata, tapi sangat ekspresif di dunia maya. Balik lagi ke nyamannya seseorang itu dimana. Ada orang yang emang bisa ngomong dalam arti cerita tentang gimana dia atau kehidupannya di orang terdekatnya dan memilih untuk nggak cerita di dunia maya. Karena dia berpikir bahwa itu privasi dan nggak mau semua orang tau selain orang terdekatnya itu. Tapi sebaliknya, ada juga yang malah lebih nyaman membagikan snippet of her/him life di media sosial dan malah memilih untuk menutup diri di dunia nyata. Dua-duanya nggak salah, hidup itu pilihan. Semua tergantung cara pandang aja, sih sebenernya. Ketika lo memilih diantara keduanya, lo harus bisa pastiin risiko apa yang bakal lo ambil.

Gua beranggapan bahwa apa yang terjadi dalam diri seseorang itu merupakan kehendak Tuhan. Gua nggak menyalahkan sama sekali atas tindakan yang dilakuin. Kalo emang itu buat ganggu atau nggak sesuai sama norma, ada baiknya itu diingatkan, bukan dihakimi. Menurut gua pribadi sesama manusia itu emang udah kewajibannya saling mengingatkan mana yang baik dan mana yang buruk tanpa saling menjatuhkan. We are family, memijak bumi yang sama. Jadiin perbedaan adalah suatu keistimewaan yang membuat kita bisa ‘kerja bareng’. Toleransi penting banget, sih. There’s no need to ask people to appreciate you, if you don’t respect other’s. The best respect is from ourselves.

Makasih udah baca!


With Richeese’s chicken,



Vita


Rabu, 01 Agustus 2018

Mahasiswa Baru

Lulus sekolah itu bukan akhir dari perjuangan hidup. Gua setuju banget sih. Entah bakal ngapain kita setelah lulus sekolah, itu bakal nyiptain chapter baru di hidup kita. Lo bakal terus ditempa dengan proses yang berbeda. And here I am, wanna tell you how my journey’s going on.

Kalo lo baca post gua yang pertama, lo udah tau kalo gua sekarang kuliah. Jadi, kuliah adalah chapter baru di hidup gua. Gua sangat sangat excited awal masuk kuliah. Banyak hal yang gua lakuin sebelum bener-bener belajar at my new class. Dan itu bener-bener nunjukkin kalo gua siap. Saking ‘rajinnya’, gua buka website yang isinya adalah materi dari dosen UI kalo nggak salah, dia itu nyediain semua materi terkait untuk mahasiswanya. Cuma itu bisa diakses umum, jadi nggak kekunci dan siapapun bisa liat. Selain itu dia juga nyiapin soal di sub babnya. I think it’s really really helpfull terutama buat gua yang masih cukup buta sama jurusan yang sekarang gua lakonin.

Website itu bukan nyediain pdf yang bisa di download. Jadi gua menyiasati dengan copy materi secara manual yang gua pindahin ke Word. Paling gua highlight bagian-bagian yang harus gua searching lagi buat mahamin materinya. Abis itu gua baca-baca aja. Gua nggak menyarankan lo buat ngelakuin hal yang sama. It just my opinion yang menurut gua emang worth it buat gua pribadi lakuin. Selain nyari dasar-dasar dari jurusan gua ini, gua juga fokus sama perlengkapan yang harus gua punya. Awalnya gua nyadar juga, like ‘apasih lebay banget, nanti juga ujung-ujungnya sama kayak sekolah’. Yang kayak lo tau, ketika lo punya beragam stationery dan ujung-ujungnya adalah hilang. Itu udah menjadi suatu budaya. Tapi itu yang gua lakuin.

When I was at my new class, nih di kampus. Jujur aja gua ngerasa ‘wah’. I mean, gua mikir kalo nggak semua orang dikasih kesempatan untuk duduk di kursi kampus. Walaupun kursi kampus bener-bener nggak menentukan kesuksesan seseorang, ya. Tapi itu yang gua rasain.

Beralih ke sosial, ini lebih ke gimana cara gua buat berhubungan sama temen sekelas. Dari dulu gua orang yang main sama siapa aja, hayuk. Yang penting dalam sebuah hubungan menurut gua adalah ketika gua bisa ngambil manfaat dari hubungan itu, terutama norma dan perilaku gua yang jauh lebih baik. Lo boleh selektif dalam memilih temen. It’s really good. Hidup itu pilihan, dan gua rasa semua orang bebas memilih apa yang menurut dia bakal baik untuk kedepannya. Dan gua sama sekali nggak menyalahkan orang-orang yang nggak mau temenan sama semua orang. Itu prinsip.

Selain ada manfaat, gua berhubungan dengan orang-orang yang membuat gua nyaman. Nyaman untuk gua sendiri maupun nyaman untuk orang itu. Gua bakal nyaman kalo gua bisa jadi diri gua sendiri saat di depan dia, gua bebas mengekspresikan diri gua, and she/he comfort with that. Hubungan di awal pertemuan itu menurut gua sangat menentukan untuk kedepannya. Karena gua bakal ketemu dia terus, gua bakal interaksi, dan lainnya. Mereka yang gua kenal sekarang adalah bagian dari perjalanan gua di chapter ini. Gua ketemu dengan orang-orang yang nggak sama sekali gua expect, dan dari situ gua belajar. Gua belajar buat mahamin karakter orang, walaupun nggak semuanya bisa gua ngerti. Kadang gua cuma ketawa atau ngucap ‘oh’ ketika ternyata karakter orang itu nggak ada di pikiran gua. Tahap ini adalah cikal bakal persaudaran gua dibuat. Meninggalkan berbagai macam karakter yang gua tau, mereka adalah orang yang bisa jadi bagian proses gua di kampus.

Buat mahasiswa lama pasti pernah ngalamin ini. When you still called dosen dengan guru, mata kuliah dengan mata pelajaran, kampus/kuliah dengan sekolah. Emang nggak semuanya sih, tapi pasti mostly yes!! Oke, mulai dari dosen. Nggak semua dosen itu cuek. Selama beberapa semester ini gua jalanin, banyak dosen yang perhatian sama mahasiswanya. Mulai dari nanyain absen, tugas yang belum selesai, ngasih dispensasi, dan lainnya. I don’t know kalo di tempat lain, tapi artikel-artikel yang dulu gua baca itu sangat berlebihan menurut gua. Dosen juga ada kok yang punya sisi demokratis. Bakal nanya gimana enaknya, biar dia dan mahasiswanya sama-sama seneng buat jalanin. Tapi nggak semuanya ya, gengs. Itu hanya yang Tuhan pilih. Sepengalaman gua, dosen itu lebih serius dan lebih nyantai. I mean, ada satu hal yang kalo dijalanin itu mengandung kedua unsur tersebut. Entah lebih serius dalam pengerjaannya terus nyantai dalam rentang waktunya, atau sebaliknya. Intinya itu bener-bener olah mental. Waktu awal-awal semester gua belum terbiasa sama belajar yang kayak gitu. Tapi setelahnya, ya, let it flow. Gimana cara lo buat beradaptasi sama lingkungan baru.

Kalo untuk yang ini pasti udah tau lah, ya. Saat kita kuliah, kita fokus sama subject yang kita ambil. Karena fokus itulah yang membuat kita harus lebih teliti dengan materi yang lebih spesifik. Harus banyak baca, ambil pengalaman dan sebagainya. Di mata kuliah ini ada yang pake sistem sks atau sistem modul. Kalo sistem sks, dia main kebijakan waktu satu sksnya berapa menit. Yang berarti kalo ada satu mata kuliah yang ber-sks 3 dan kebijakannya 1 sks itu 40 menit, jadi buat mata kuliah itu dikasih waktu belajar 120 menit dalam satu minggu. Kalo sistem modul, tergantung sama kebijakan untuk penyelesaian satu modulnya itu berapa bulan. Buat sistem modul ini emang cuma ada dibeberapa jurusan saja.

Perbedaan yang paling menonjol antara kuliah sama sekolah adalah di cara belajar menurut gua. Ketika sekolah, lo cuma tinggal mangap atas suapan guru, which is pelajaran yang ada di sekolah. Lo bisa dapet perbaikan nilai di waktu yang berdekatan, yang nggak mengganggu aktivitas belajar lo di semester berikutnya. Ketika kuliah? I don’t thing so. Emang nggak bakal semua orang berpikir kayak gini. Tapi menurut gua ini sangat berpengaruh buat kedepannya. Ketika kuliah, kita seharusnya yang menjadi pro aktif dibanding dosen. Nyari bahan tambahan dari tulisan, ataupun observasi dan penelitian. Peran dosen disana cuma ngasih arahan untuk seharusnya bagaimana kita berbuat. Selebihnya adalah tergantung inisiatif kita. Mungkin di sekolah juga ada yang kayak gitu, tapi dalam lingkup kecil. Selanjutnya ini keknya mirip dengan remedial. Ketika lo kuliah dan dapet nilai yang nggak sesuai, lo nggak bisa semudah itu buat bujuk dosen. Dapet nilai diatas 70 merupakan suatu kemerdekaan buat para mahasiswa, khususnya gua. Karena, kalo lo dapet nilai dibawah itu yang berarti huruf yang lo dapet adalah C, lo nggak bisa ngulang matkul itu lagi. Jadi nilai lo nggak bakal bisa berubah sampe akhir. Good news buat yang dapet D adalah lo bisa ngulang, bad news-nya adalah lo ngulang tahun depan.

Chapter tiap tingkat hidup itu unik. Like a game, how do you give some effort to win and level up next. Tulisan diatas ini murni pengalaman yang gua dapet ketika ada di level perkuliahan. Gua sangat terbuka untuk menerima pengalaman lain yang mungkin beda dari tulisan gua diatas.

Makasih udah baca!


With fried egg,



Vita